Adaptasi teknologi Android sebagai OS (operating system) dan perangkat memang telah masuk ke semua sektor kalangan. Termasuk pemanfaatan teknologi Android untuk operasi militer, pertahanan, dan keamanan. Android sebagai OS yang dinilai user friendly menjadi alasan utama penggunaanya. Begitupun juga dari sisi perangkat (hardware), sehingga membuat jenis smartphone dan tablet Android ini sangat mudah ditemui dipasaran.
Teknologi Android untuk militar telah berhasil dirancang oleh PT Hariff Daya Tunggal Engineering (DTE), dengan meluncurkan aplikasi BMS (Battlefield Management Systems) yang dipersiapkan untuk satuan Kavaleri TNI AD. Aplikasi BMS adalah sistem manajemen kendali dan komando taktis untuk prajurit di medan tempur.
Lewat perangkat teknologi BMS, prajurit di lapangan dapat saling mengetahui posisi dan kedudukan rekan-rekannya, sehingga tidak lagi terjadi salah tembak dan lebih mudah untuk mengatur strategi perang. Maklum dalam jalannnya peperangan, kekisruhan komunikasi dan visual kerap menjadi masalah yang serius.
Untuk menjamin komunikasi yang aman, teknologi BMS dipersiapkan untuk dapat melakukan interoperability dengan sistem atau alat komunikasi TNI yang sudah ada, baik di frekuensi HF, VHF dan UHF. Lebih hebatnya teknologi BMS menerapkan jaringan WiMax (Worldwide Interoperability for Microwave Access) Broadband Wireless Network yang juga dibuat PT Hariff DTE. Dengan WiMax, komunikasi antar prajurit tak hanya bicara soal voice, tapi juga mencakup komunikasi data dan multimedia yang kesemuanya ditawarkan dalam skema JAM (Jaringan Aman dan Mandiri) yang dilengkapi enkripsi.
Nah, pemanfaatan Android untuk militer di sini digunakan pada sisi terminal. Untuk perangkat BMS yang ditempatkan di kendaraan tempur berupa perangkat monitor terminal K230. Uniknya perangkat ini menggunakan tablet Android dari salah satu brand lokal. Meski begitu, tak terlihat fisik sebuah tablet, mengingat perangkat dilapisi moudling casing besi yang kuat. PT Hariff DTE merancang aplikasi khusus di tablet ini, sehingga tampilan user interface-nya lebih mirip Windows, sementara sambungan OS-nya mengusung Linux.
BMS juga dipersiapkan digunakan oleh prajurit infanteri. Dengan modal smartphone Caterpilar dan Sony Xperia yang punya kemampuan tahan banting dan anti air, prajurit dengan arm band dapat selalu memantau kondisi tempur di lapangan secara real time. Tapi jangan salah, meski menggunakan smartphone Android, tapi sistem seluler GSM-nya tidak digunakan. Seperti pada smartphone Caterpilar B15Q, prajurit di lapangan terkoneksi dengan WiFi ke modul BMS yang terpasang di perangkat manpack.
